Jepang Membangun Pendidikannya Setelah Dibom Atom

Bagaimana Jepang Membangun Pendidikannya Setelah Dibom Atom?

Meski pemboman menyisakan trauma yang mengerikan, kelas-kelas untuk sekolah telah menjadi dibuka kembali terhadap 21 Agustus 1945. Bahkan, terhadap hari itu para kepala sekolah nasional bersua dan mengkaji langkah memulihkan sekolah dan mengakses kembali kelas.

Berdasarkan diskusi ini, pemerintah memerintahkan sekolah untuk dibuka kembali menjadi tanggal 15 September dan sekolah-sekolah di Kota Hiroshima secara bertahap mengawali kembali kelas pada bulan September dan November.

Dalam tulisannya, Susy Ong, menjelaskan bahwa terhadap tanggal 15 September 1945, yakni tepat 1 bulan sehabis pengumuman kalah perang, pemerintah Jepang lewat menteri pendidikan mengeluarkan ‘Pedoman Kebijakan Pendidikan untuk Pembangunan Jepang Baru,’ yang memuat 11 pedoman kerja:

1. Pendidikan bertujuan memperluas wawasan dan pengetahuan, meningkatkan kebolehan berpikir secara ilmiah, membina stimulan cinta damai dan meningkatkan moralitas rakyat

2. Menghapus semua mata pelajaran yang tentang bersama dengan militer, semua pengajaran dan penelitian harus difokuskan untuk tujuan damai

3. Merevisi buku paket agar isinya cocok bersama dengan kebijakan pendidikan baru

4. Kementerian pendidikan menyelenggarakan program pendidikan kembali (re-edukasi) untuk para guru, agar mengerti kebijakan pendidikan yang baru

5. Memberi peluang pembelajaran khusus untuk para murid yang telah dikerahkan ke medan perang atau ke pabrik agar putus sekolah

6. Pendidikan ilmiah yang bertujuan melatih kebolehan berpikir secara ilmiah dan bukan cuma demi mengejar kepentingan sesaat

7. Untuk membina rakyat yang bermoralitas tinggi dan berwawasan luas, harus ditingkatkan pendidikan luar sekolah untuk orang dewasa dan pekerja, lewat sarana lazim seperti perpustakaan lazim dan museum, serta mengfungsikan media seperti pameran lukisan, pertunjukan teater, penerbitan buku-buku pengetahuan pengetahuan tenar dan sebagainya

8. Akan memfasilitasi pembentukan karang taruna tingkat lokal, sebagai wadah komunikasi dan pembinaan solidaritas sosial

9. Akan upayakan kerja sama antar agama untuk membina persahabatan dan perdamaian dunia

10. Akan memfasilitasi acara pertandingan olahraga untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan rohani, serta membina stimulan fair play serta persahabatan sesama anak bangsa dan pada rakyat Jepang bersama dengan warga negara lain

11. Akan melakukan restrukturisasi kementerian pendidikan untuk membentuk direktorat olahraga dan direktorat pendidikan ilmiah.

Secara singkat, pendidikan Jepang bersama dengan ‘kurikulum baru’ berupaya untuk membentuk karakter siswa bersama dengan kapasitas mereka untuk berpikir rasional dan ilmiah. Hal ini dikarenakan terhadap era itu, penduduk Jepang memiliki standar ilmiah yang rendah.

Kemudian, pendidikan termasuk berupaya membangun kepribadian siswa, agar mereka tidak dapat disesatkan oleh para pemimpin. Hal ini dilatarbelakangi oleh hasil evaluasi dan introspeksi yang mengungkap bahwa terhadap era perang banyak penduduk Jepang ringan disesatkan dan diarahkan oleh pemimpin.

Baca juga:

Beasiswa Indonesia Maju D4-S1 Dibuka, Tanpa Batas Usia dan IPK

Beasiswa S1 Binus University 2024, Bisa Kuliah Gratis sampai Lulus

Melakukan Reformasi Pendidikan

Setelah mengevaluasi dan membentuk dewan ahli pendidikan, Kementerian Pendidikan Jepang membentuk Dewan Reformasi Pendidikan (Kyouiku Sasshin Iinkai). Dewan baru ini bertugas menyusun undang-undang tentang pendidikan, berdasarkan himbauan dari tim Misi Pendidikan Amerika.

Susy Ong termasuk menerangkan di dalam tulisannya, bahwa Dewan Reformasi Pendidikan kemudian langsung merumuskan himbauan untuk penyusunan UU pendidikan. Dalam UU Pokok Pendidikan, tercantum bahwa:

– Tujuan pendidikan adalah membina warga negara yang berkepribadian, sehat jasmani dan rohani serta memiliki karakter yang layak sebagai bagian penduduk dan negara yang cinta damai dan demokratis.

– Peserta didik harus memperluas pengetahuan dan wawasan, melatih diri agar tetap melacak kebenaran, peka dan berakhlak mulia, serta berupaya agar tetap berbadan sehat

– Peserta didik harus berjiwa independent dan kreatif, serta menghormati tinggi nilai bekerja

– Peserta didik harus bertanggung jawab dan bersikap adil, menghormati tinggi kesetaraan gender, sanggup bekerja sama bersama dengan orang lain, berjiwa sosial, pro-aktif di dalam berkontribusi bagi masyarakat

– Peserta didik harus menghormati semua makhluk hidup, berkontribusi bagi pelestarian lingkungan

– Peserta didik harus memiliki jiwa patriotik sekaligus berkenan menghormati budaya negara lain, serta pro-aktif berkontribusi bagi perdamaian dan kemajuan dunia.

Pendidikan yang Berpusat terhadap Siswa

Untuk membangun proses di pendidikan tinggi, diterbitkanlah program belajar pertama terhadap 1947. Program belajar ini termasuk dipakai sebagai standar kurikulum di semua proses sekolah.

Program ini dibikin bersama dengan mengacu terhadap kurikulum Amerika Serikat (courses of study). Pada kala itu, program belajar termasuk digunakan sebagai proposal tentatif untuk beri tambahan pedoman bagi para guru.

Pada dasarnya, tersedia dua pendekatan kala merumuskan kurikulum yakni satu berfokus terhadap pengajaran pengetahuan bersama dengan langkah yang sistematis dan satu kembali berfokus terhadap apa yang siswa tertarik pelajari.

Dalam hal ini, program belajar pertama yang diinisiasi oleh Jepang berorientasi terhadap minat siswa di dalam suatu bidang atau pengetahuan.

Apa yang dilakukan Jepang di dalam pendidikan sehabis perang, tak terlepas dari peran Amerika Serikat mengirimkan tim misi pendidikan ke Jepang terhadap 1946.

Tim Misi Pendidikan Amerika (the United States Education Mission to Japan) selanjutnya kemudian menulis laporan komprehensif perihal pendidikan Jepang, termasuk tujuan dan mengisi pendidikan, administrasi, dan proses pelatihan guru.

Berdasarkan laporan tersebut, Kementerian Pendidikan mengeluarkan “Pedoman Pendidikan Baru” terhadap 1946. Kemudian terhadap April 1947, proses sekolah baru (sistem enam th. sekolah dasar, tiga th. sekolah menengah pertama, dan tiga th. sekolah menengah atas) diterapkan.

Pendidikan Jepang Mulai Meningkat Pesat

Pada 1958, Jepang memperkenalkan pendidikan yang mendorong proses pendekatan pengajaran kepada siswa. Hasilnya, kebolehan akademik anak-anak Jepang meningkat pesat sebagai akibat dari kebijakan pendidikan tersebut.

Berdasarkan belajar perbandingan kebolehan skolastik internasional yang dilakukan terhadap 1964 oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA), Jepang menempati peringkat ke-2 di dalam bidang matematika.

Dalam belajar sains selanjutnya yang dilakukan terhadap th. 1969 (pada siswa kelas lima dan sembilan di 18 negara), baik siswa kelas lima maupun kelas sembilan di Jepang menempati peringkat teratas di dunia.

Setelah hasil survei selanjutnya dipublikasikan, pendidikan di Jepang jadi jadi fokus perhatian internasional. Pendidikan dipercayai merupakan salah satu faktor yang memungkinkan pemulihan ajaib Jepang dari tragedi perang dan kehancuran.

Kini, Jepang telah menjelma sebagai salah satu negara bersama dengan proses pendidikan terbaik di dunia. Beberapa universitas terbaiknya pada lain Tokyo University, Kyoto University, Osaka University, dan Keio University.